KIM Konengan75. Kata bidadari mungkin sudah sering di
dengar, bahkan sejak kecil pun kita sudah mendengarnya sebagai suatu pendidikan
baik agar kelak menjadi wanita idaman akhirat. Tidak bisa dipungkiri, sebagai
wanita muslimah pasti menginginkan impian itu.
Namun, tidak semua orang bisa mendapatkan anugerah itu kecuali amal baiknya
memenuhi syarat. Berbicara bidadari, pasalnya laki-laki shaleh yang masuk
surga, selain mendapatkan segala sesuatu di dalamnya juga akan di temani oleh
bidadari-bidadari cantik. Jika laki-laki bisa mendapatkan bidadari, lalu
bagaimana dengan wanita?.
Sebagaimana dilansir Metrofajarnews.com Jumat (8/10/2021) dari
laman Republika.co.id, berikut penjelasannya:
KH Ali Mustafa Yaqub dalam buku Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal
menyampaikan, istilah bidadari sendiri sebenarnya masih diperselisihkan oleh
ulama. Sebab baik Alquran maupun hadis terkadang menyebutnya dengan istilah
al-hur al-ain, yang secara kebahasaan berarti wanita-wanita cantik yang sangat
putih, putih matanya, dan sangat hitam, hitam matanya.
Dalam beberapa hadis terkadang makhluk gaib itu disebut nisa ahlul jannah
yang secara kebahasaan berarti wanita-wanita atau istri-istri penghuni surga.
Sedangkan ada sementara ulama yang tidak sependapat dengan istilah bidadari
sebagai terjemah al-hur al-in atau nisa ahlul jannah.
Mereka menginginkan makhluk gaib itu tidak diterjemahkan sebagai bidadari,
sebagaimana makhluk-makhluk lain seperti malaikat, jin, dan setan yang teta
disebut malaikat, jin, dan setan. Maka bidadari menurut sementara para ulama
ini tetap disebut al-hur al-ain.
Ada juga ulama yang berpendapat kaum lelaki memang dijanjikan Allah SWT
bila beriman sampai meninggal dan beramal saleh mereka akan dianugerahi al-hur
al-ain, di samping kenikmatan yang lain. Sementara bagi kaum hawa tidak
disebutkan secara tegas janji seperti itu.
Masalahnya, karena kaum hawa umumnya malu bila disebutkan hal-hal yang
berkaitan dengan hubungan seksual. Berbeda dengan lelaki yang justru senang
bila hal itu disebutkan pada mereka.
Terdapat hadis yang menyatakan bahwa al-hur al ain itu sebagian berasal
dari istri-istri pada waktu hidup di dunia. Imam Ahmad bin Hanbal dalam
kitabnya Al-Musnad meriwayatkan hadist:
Inna adna
ahlil-jannati manzilatan inna lahu lasab’a darajaatin… wa inna lahu
minal-hururil-‘ini lisnataini wa sab’ina zaujatan siwa azwaajihi minaddunya.
Artinya : Fasilitas terendah bagi penghuni surga, ia memiliki tujuh
tingkatan… dan ia memiliki 72 al-hur al-ain sebagai istri-istrinya, selain
istrinya dari dunia,. Namun bagaimanapun juga, kata Kiai Ali, kenikmatan yang
diberikan di surga tidak sesempit yang manusia bayangkan sekarang.
Dalam Alquran Surah Az-Zukhruf ayat 71 dan Surah Fushilat ayat 31
disebutkan bahwa penghuni surga akan mendapatkan semua yang diinginkan hatinya
dan semua yang dia minta. Maka segala yang diinginkan penghuni surga, misalnya
hubungan seksual dengan siapa saja, bila itu termasuk kenikmatan yang
diinginkannya, maka Allah SWT akan memberikannya.
Yang jelas, kenikmatan yang ada di surga tidak seperti kenikmatan yang ada
di dunia. Surga di tempat segala kenikmatan dan tidak ada rasa capek atau
kelelahan bagi penghuninya. Memakan buah-buahan misalnya, tidak dilakukan atas
dasar motivasi menghilangkan lapar atau mencari kesehatan seperti yang manusia
lakukan di dunia. Melainkan semata-mata menikmati kelezatan makanan itu.
Sekali lagi ditegaskan manusia yang masih hidup di dunia tidak mampu
membayangkan kelezatan dan kenikmatan yang ada di surga. Hal ini sebagaimana
hadis riwayat Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda:
Inna adna
manzilatin fil-jannati hadzihi ad-dunya wa asyratu amsaliha,”. Yang artinya, “Sekecil-kecil kavling di surga
adalah sebesar dunia ini ditampah 10 kali lipatnya.
Ini artinya, penghuni surga yang paling miskin, rumahnya di atas kavling
seluas 11 kali lipat dunia ini. Itulah kebesaran dan kasih sayang Allah SWT
kepada hamba-Nya yang saleh dan salehah yang dapat memasuki surga-Nya. (Leha/Republika.co.id)