Salahsatu cara mengungkapkan perasaan dalam bentuk tulisan yang sudah banyak ditinggalkannya yaitu menulis catatan harian atau buku Diary
Menulis buku harian atau diary yang dianggapnya jadul sebenarnya manfaatnya banyak setidaknya dengan menulis diary mampu menyeimbangkan diri agar tidak mudah terpengaruh pikiran-pikiran negatif sehingga akan membawa orang itu mengalami stres.
Secara tidak langsung orang yang sering menulis diary menjadikannya sebuah kebiasan dan punya keterampilan dalam literasi menulis dibandingkan dengan yang tidak menulis sama sekali.
"HANAFI, S.Pd. I" Kepala Madrasah Tsanawiyah Al-Hasan Sumber Gedugan Giligenting Sumenep Jawa Timur Rabu (12/02 ), menuturkan bahwa semua siswa di kelas akhir (IX) memang diwajibkan memiliki buku diary atau catatan harian untuk menjadikan kebiasaan dalam penulisan literasi dan sekaligus sebagai dasar mengasah kepekaan berpikir, menganalisa sesuatu hal dan mengatur emosi diri siswa.
Harapannya seluruh siswa bisa punya nilai lebih setelah terbiasa menulis dan mencatat kegiatan kesehariannya dalam beraktifitas. Karena dengan terbiasa menulis dengan diary dan sanggup menulis keluh kesah maka disanalah seseorang sedang menterapi diri sendiri dan punya mental yang kuat.
Sementara itu salahsatu siswi MTs Al-Hasan " Mayfi Anggita Mawandani" yang duduk dikelas IX mengungkapkan saat mau menulis buku harian atau diary dirinya masih kebingungan dari mana memulai menulis dan apa yang harus ditulis di buku diary itu.
"Dalam menulis buku catatan harian atau diary saya bingung apa yang harus saya tulis, namun dengan banyak bertanya-tanya dan mencari referensi cara menulis diary akhirnya gampang dan memulainyapun mudah karena itu pengalaman sehari-hari, saya mulai menulis apa yang dirasakan, dialami dan dilihat serta hilangkan rasa pesimis dan perasaan negatif "
"Saya juga berharap tulisan diary saya bisa dijadikan satu buku cerita untuk di sumbangkan di Perpustakaan Al-Hasan serta kenang-kenangan saya ketika sudah lulus dari MTs Al-Hasan ini".katanya.( Rahman KIM Konengan).