Ditengah arus kemajuan teknologi yang serba mesin dan berdampak pada tergerusnya penggunaan jasa pembajak lahan pertanian tradisional dengan jasa sapi dikarenakan sudah berganti ke traktor maka akan hilang jasa bajak tanah secara perlahan-lahan.
Meski sudah banyak yang beralih ke jasa traktor membajak lahan pertanian di wilayah giligenting Aswini sebagai pekerja jasa bajak lahan pertanian desa gedugan tak pernah patah arang untuk terus merawat tradisi jasa bajak tanah menggunakan sapi.
"Sudah jarang petani menggunakan jasa sapi untuk mengolah lahan pertaniannya, tetapi saya akan tetap menjaga tradisi warisan nenek moyang penggunaan jasa sapi mengolah tanah pertanian". Kata Aswini , Kamis ( 20/10).
Penggunaan traktor dalam membajak tanah tidak semua bisa dilakukannya karena di wilayah giligenting lahan pertanian masih banyak berbatu dan beresiko kalau menggunakan traktor.
"Digiligenting ini tetap masih ada yang menggunakan jasa saya membajak tanahnya apalagi yang lahannya bebatuan tentu tidak bisa menggunakan traktor karena beresiko, tapi kalau pakai sapi kan tidak dan bisa dikendalikan apalagi yang sudah terbiasa". Katanya.
Mengenai regenerasi bajak tanah pakai sapi digiligenting sudah jarang dan hampir tidak ada generasi yang mau, disamping punya keahlian juga perlu perawatan khusus agar sapi tetap sehat namun pihaknya berharap tradisi bajak tanah menggunakan jasa sapi tetap di jaga.
"Regenerasi untuk jadi pekerja bajak tanah menggunakan sapi sudah tidak ada yang mau kalau digiligenting para pemudanya sudah banyak yang merantau, namun karena ini tradisi yang tidak boleh punah maka perlu ada regernerasi agar tidak musnah" pungkasnya. ( Rahman KIM Konengan).
