Demi Dapur Tetap Ngebul, Nelayan Giligenting Tetap Nekad Melaut Meski Cuaca Kurang Bersahabat

 

Giligenting, Sumenep,-  2 Juni 2026 – Cuaca di perairan sekitar Pulau Giligenting, Kabupaten Sumenep, Madura, sejak beberapa hari terakhir terlihat kurang bersahabat. Langit sering gelap tertutup awan tebal, angin bertiup cukup kencang, dan ombak bergulung tinggi puluhan nelayan tradisional di desa-desa pesisir Giligenting tetap nekat menurunkan perahu mereka ke laut.

 

Bagi mereka, cuaca buruk bukan alasan untuk berhenti mencari nafkah. Satu-satunya alasan yang membuat mereka tetap bertaruh nyawa di tengah ganasnya laut adalah satu hal sederhana namun krusial: agar dapur di rumah tetap ngebul dan keluarga tetap bisa makan.

 

“Saya tahu laut sedang galak, ombak besar dan angin kencang. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau saya diam di rumah, dari mana saya dapat uang buat beli beras, buat biaya sekolah anak, dan kebutuhan lain? Kami ini tidak punya pilihan lain selain laut. Kalau tidak melaut, tidak ada makan,” ungkap Sundari, seorang nelayan warga Desa Gedugan, Giligenting, dengan nada pasrah  Selasa pagi.

 

Sundari  bukan satu-satunya yang berpikir demikian. Hampir seluruh kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari laut di wilayah ini memiliki pemikiran yang sama. Setiap pagi, subuh-subuh sekali, mereka sudah bangun, memeriksa kondisi perahu kayu sederhana mereka, memastikan mesin masih berfungsi baik, lalu berangkat menuju tengah laut meski harus membelah ombak yang ganas.

 

Risiko yang mereka hadapi sangat besar. Selain bahaya terbaliknya perahu akibat hantaman ombak, jarak pandang yang terbatas saat cuaca mendung dan hujan juga meningkatkan risiko tersesat atau bertabrakan dengan perahu lain. Namun, keterbatasan ekonomi memaksa mereka mengesampingkan rasa takut. Penghasilan mereka sangat bergantung pada hasil tangkapan ikan harian. Jika satu hari saja mereka tidak melaut, pendapatan hilang begitu saja, dan kebutuhan sehari-hari keluarga menjadi terancam.

 

“Kadang pulang tangan kosong, kadang dapat sedikit saja. Modal solar, makan, dan biaya lainnya kadang tidak balik. Tapi itulah risiko nelayan. Kami tetap bersyukur apa yang diberikan laut. Yang penting keluarga di rumah tetap bisa makan, itu tujuan utama kami,” tambah Abdul, nelayan lain yang ikut berlayar.

 

Pemerintah Desa s Gedugan Giligenting  terus mengimbau para nelayan untuk lebih waspada dan memprioritaskan keselamatan, namun memahami betul kondisi ekonomi masyarakatnya.

 

“Kami sudah berulang kali mengingatkan, kalau cuaca buruk sebaiknya jangan melaut dulu. Tapi apa daya, kebutuhan hidup memaksa mereka tetap pergi. Kami hanya bisa berdoa dan berharap mereka selalu diberi keselamatan, membawa hasil tangkapan yang lumayan, dan pulang dengan selamat ke pangkalan,” ujar H. Rusnan, Kepala Desa Gedugan.

 

Di tengah kerasnya kehidupan, keteguhan hati dan semangat pantang menyerah nelayan Giligenting menjadi bukti nyata cinta kasih seorang kepala keluarga. Demi dapur tetap ngebul, mereka rela menaklukkan ganasnya ombak laut, membuktikan bahwa tanggung jawab menafkahi keluarga jauh lebih berat daripada rasa takut menghadapi bahaya samudera. ( Rahman

Lebih baru Lebih lama